Tampilkan postingan dengan label Religi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Religi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 November 2012

10 Masjid Termegah di Dunia

10. masjid Baitul Mukarram, Dhaka, Bangladesh
Spoiler for TEN!:

ini adalah masjid nasional dari Bangladesh. Terletak di jantung kota Dhaka, ibukota Bangladesh, ini masjid didirikan di tahun 1960-an. Memiliki kapasitas 30.000 orang, menjadi 10 Masjid terbesar di dunia, namun masih mendapatkan mesjid terlalu penuh dengan setia muslim ibadah. Karena ini, pemerintah bangladesh telah memutuskan untuk menambahkan ekstensi (pelebaran) masjid.

9. Masjid Faisal , Islamabad, Pakistan
Spoiler for NINE!:

Faisal di Masjid di Islamabad adalah masjid terbesar di Indonesia dan Asia Selatan dan masjid terbesar keempat di dunia. Itu adalah masjid terbesar di dunia 1986-1993 ketika di kalahkan ukuran oleh selesainya Masjid Hassan II di Casablanca, Maroko. Setelah ekspansi dari Masjid Al-Haram (Grand Mosque) dari Mekkah dan Al-Masjid Al-Nabawi (Mesjid Nabi) di Madinah, Arab Saudi pada tahun 1990-an, Masjid Faisal Masjid ke tempat keempat terbesar di dunia.

8. Sultan Mosque, Singapore
Spoiler for EIGHT!:

Masjid Sultan , terletak di Muscat Street and North Bridge Road di Kampung Glam Kabupaten Rochor Perencanaan Wilayah di Singapura. Masjid dianggap salah satu yang paling penting masjid di Singapura. Doa aula dan domes menyorot dari masjid fitur star.
Masjid Sultan telah tinggal dasarnya tidak berubah sejak dibangun, hanya dengan perbaikan dilakukan untuk ruang utama di tahun 1960 dan lampiran yang ditambahkan pada tahun 1993 . Ia tetapkan sebagai monumen nasional pada tanggal 14 Maret 1975.

7. Baiturrahman, Bandar Aceh, Indonesia
Spoiler for SEVEN!:

Masjid Raya Baiturrahman adalah sebuah masjid yang berada di pusat Kota Banda Aceh. Masjid ini dahulunya merupakan masjid Kesultanan Aceh.
Sewaktu Belanda menyerang kota Banda Aceh pada tahun 1873, masjid ini dibakar, kemudian pada tahun 1875 Belanda membangun kembali sebuah masjid sebagai penggantinya.
Mesjid ini berkubah tunggal dan dapat diselesaikan pada tanggal 27 Desember 1883. Selanjutnya Mesjid ini diperluas menjadi 3 kubah pada tahun 1935. Terakhir diperluas lagi menjadi 5 kubah (1959-1968).
Masjid ini merupakan salah satu masjid yang terindah di Indonesia yang memiliki bentuk yang manis, ukiran yang menarik, halaman yang luas dan terasa sangat sejuk apabila berada di dalam ruangan masjid tersebut.

6.Taj’ul Masjid, Bhopal, India
Spoiler for SIX!:

Taj-ul-Masajid, adalah sebuah masjid yang terletak di Bhopal, India. Ini adalah salah satu mesjid terbesar di Asia . Masjid juga digunakan sebagai sebuah madrasah (sekolah Islam) di siang hari.

5. Omar Ali Saifuddin, Brunei
Spoiler for FIVE!:

Sultan Omar Ali Saifuddin Mosque adalah masjid kerajaan Islam yang terletak di Bandar Seri Begawan, ibukota Kesultanan Brunei. Masjid diklasifikasikan sebagai salah satu masjid paling spektakuler di kawasan Asia Pasifik dan menjadi daya tarik utama bagi para turis. Sultan Omar Ali Saifuddin Mosque dianggap di antara orang-orang Brunei sebagai landmark dari negaranya.

4. Zahir Mosque, Kedah, Malaysia
Spoiler for FOUR!:

Masjid ini dibangun pada tahun 1912, sebuah usaha yg dibiayakan Tunku Mahmud Ibni Almarhum Sultan Tajuddin Mukarram Shah. Situs ini masjid merupakan makam dari Kedah warriors yang telah meninggal sambil mempertahankan Kedah dari Siam pada 1821. Arsitektur dari masjid ini terinspirasi oleh AZIZI Masjid di Langkat kota di utara Sumatera. Masjid ini ditingkatkan dengan lima besar utama domes melambangkan lima prinsip-prinsip Islam.

3. Masjid Al Aqsa, Jerusalem, Israel (Palestine)
Spoiler for THREE!:

Masjid Al-Aqsa (Arab: المسجد الاقصى, “Masjid yang terjauh”), juga dikenal sebagai Al-Aqsa, adalah sebuah tempat suci Islam di Kota Lama dari Yerusalem. Di masjid itu sendiri merupakan bagian dari Al-Haram ash-Sharif atau “Sacred Noble Sanctuary” (bersama-sama dengan Dome of the Rock), sebuah situs yang juga dikenal sebagai Gunung Bait dan situs tersuci situs dalam Judaisme, karena diyakini menjadi tempat Bait di Yerusalem sekali berdiri. secara luas dianggap sebagai yang ketiga tersuci situs dalam Islam, umat Islam percaya bahwa nabi Muhamad SAW itu diangkat dari Masjidilharam di Mekah ke Al-Aqsa selama Perjalanan Malam. tradisi Islam menyatakan bahwa Muhamad SAW memimpin doa terhadap situs ini sampai ketujuhbelas bulan setelah emigrasi, ketika Tuhan memerintahkan dia untuk berbelok ke arah Ka’aba.

Di Masjid Al-Aqsa pada awalnya kecil doa rumah dibangun oleh Rashidun kalif Umar, tetapi telah dibangun dan dikembangkan oleh Ummayad kalifat Abd al-Malik dan selesai oleh anaknya Al-Walid di 705 CE. Setelah gempa bumi di 746, masjid itu benar-benar hancur dan dibangun oleh Abbasid kalifat Al-Mansur di 754, dan kembali lagi oleh para penerus al-Mahdi di 780. gempa Lain bumi paling hancur paling al-Aqsa pada 1033, tetapi dua tahun kemudian Fatimid kalifat Ali az-Zahir lain dibangun masjid yang telah berdiri hingga saat ini-hari. Selama periodik dilakukan renovasi, berbagai dynasties memerintah dari Islam kalifat tambahan untuk dibangun masjid dan daerah sekitar, seperti kubah, penglihatan, dan minbar, minarets struktur dan interior. Bila Crusaders diambil di Yerusalem 1099, mereka menggunakan masjid sebagai istana dan gereja, tetapi fungsinya sebagai masjid telah dikembalikan setelah kembali oleh Saladin. Lagi renovasi, perbaikan dan penambahan dilakukan dalam abad kemudian oleh Ayyubids, Saat ini, Kota Lama dibawah Israel kontrol, tetapi masih di bawah masjid administrasi Palestina yang dipimpin-Islam waqf.

2. Masjid Al Nabawi, Madina, Saudi Arabia
Spoiler for TWO!:

Masjid juga digunakan sebagai pusat masyarakat, pengadilan, dan sekolah agama. Ada satu platform untuk membangkitkan orang-orang yang yang diajarkan Alquran.

1. Masjid Al Haram, Makkahm, Saudi Arabia
Spoiler for ONE!:


Al-Masjid Al-Haram (المسجد ال-*رام ) merupakan masjid terbesar di dunia. Terletak di kota Mekkah, ia seputar Kaaba, tempat yang muslim sambil menoleh ke arah yang menawarkan harian doa dan dianggap tempat yang holiest di Bumi oleh umat Islam. Masjid ini juga dikenal sebagai Grand Mosque.

Saat ini struktur yang mencakup wilayah 400.800 meter persegi (99,0 acres) termasuk luar dan dalam ruang doa dan dapat menampung sampai 4 juta selama ibadah haji periode, salah satu yang terbesar tahunan gatherings orang di dunia.

Sumber resmi : kaskuzers.com

Jumat, 09 November 2012

Cara Cepat Mendapatkan Jodoh Cara Islami

Siapakah jodoh kita, kapan waktunya tiba, di mana akan dipertemukan, apakah ia benar-benar orang shaleh? . Semua itu rahasia Allah Swt.

Jodoh adalah Taqdir Allah Swt

Allah Swt menetapkan tiga bentuk taqdir dalam masalah jodoh. Pertama, cepat mendapatkan jodoh. Kedua, lambat mendapatkan jodoh, tapi suatu ketika pasti mendapatkannya di dunia. Ketiga, menunda mendapatkan jodoh sampai di akhirat kelak. Apapun pilihan jodoh yang ditentukan Allah adalah hal terbaik untuk kita.

Allah Swt berfirman: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS. Al Baqarah: 216).

Kita harus terikat aturan Allah. Kita juga dibekali akal untuk memahami aturan-Nya. Ketika kita memutuskan untuk taat atau melanggar aturanNya adalah pilihan kita sendiri. Bagaimana cara kita untuk mendapatkan jodoh adalah pilihan kita. Dengan jalan yang diridhoiNya atau tidak. Tetapi hasil akhirnya Allah yang menentukan.

Kriteria Pasangan Ideal

Nabi Saw bersabda: ”Apabila datang kepada kalian lelaki yang kalian ridhai agama dan akhlaknya,maka nikahkanlah ia (dengan puteri kalian). Sebab jika tidak, maka akan terjadi fitnah dibumi dan kerusakan yang besar”.

Lelaki yang bertaqwa akan mencintai dan memuliakan istrinya. Jika ia marah tidak akan menzhalimi istrinya.
Kaum jahiliyah menikah dengan melihat kedudukan, kaum Yahudi menikah dengan melihat harta, kaum Nasrani menikah dengan melihat rupa, sedangkan umat Islam menikahkan dengan melihat Agama dan akhlaknya. Orang yang minim pengetahuan Agama dan rendah akhlaknya tak pantas menjadi Imam bagi sebuah keluarga Islami.

Nabi bersabda:”Sesungguhnya dunia seluruhnya adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita (isteri) yang sholehah”. Beliau juga bersabda: ”Wanita dinikahi karena empat faktor, yakni karena harta kekayaannya, karena kedudukannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Hendaknya pilihlah yang beragama agar berkah kedua tanganmu.”

Sulit mencari jodoh bisa jadi karena kriteria terlalu muluk. Janganlah kita menginginkan kesempurnaan orang lain, padahal diri kita tidak sempurna.Selektif dalam memilih jodoh adalah hal yang baik tetapi terlalu memilih juga akan membuat masalah baru.

Memperluas Pergaulan Sesuai Syar’i

Seringlah bersilaturrahim ke tempat saudara atau mengikuti pengajian. Ustadz, teman, orang tua, saudara, keluarga, dll bisa diminta bantuan.

Haram berpacaran (Ta’aruf yang Tidak Islami)

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Israa’: 32). Kita dilarang berkhalwat, memandang lawan jenis dengan syahwat, wanita bepergian sehari semalam tanpa muhrim, dll.

Orang pacaran selalu menutupi kekurangannya dan menampilkan yang baik-baik saja. Cari informasi dari orang dekatnya (saudara, teman, tetangganya). Perlu juga penilaian dari orang tua dan keluarga kita. Biasanya kita tidak dapat melihat kekurangan orang yang kita cintai.Terkadang orang yang memberikan penilaian buruk dan obyektif dinilai sebagai penghalang padahal kebaikan dan azas manfaat cepat atau lambat akan segera dirasakan.

Introspeksi diri

Jika kita ingin mendapatkan jodoh yang shaleh, maka kita harus menjadi orang yang shaleh juga. Allah Swt berfirman: “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula}” (QS. An Nuur: 26).

Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya Allah SWT tidak melihat pada bentuk-bentuk (lahiriah) dan harta kekayaanmu, tapi Dia melihat pada hati dan amalmu sekalian. ” (HR. Muslim, Hadits no. 2564 dari Abu Hurairah). Jadi, lelaki atau wanita yang baik menurut pandangan Allah itu adalah lelaki atau wanita yang baik iman dan amalnya.

Secara lahiriah kita perlu menjaga kebersihan, kerapihan dan menjaga bau badan. Bukan berdandan berlebihan (tidak Islami), tapi tampil menarik.

Jangan Mencintai Manusia Secara Berlebihan


“Barangsiapa memberi karena Allah, menolak karena Allah, mencintai karena Allah, membenci karena Allah, dan menikah karena Allah, maka sempurnalah imannya. (HR. Abu Dawud)
Jika kita mencintai manusia lebih daripada Allah, niscaya hati kita akan hancur dan putus asa jika ditinggalkan. Jika kita mencintai Allah di atas segalanya, niscaya kita akan selalu tegar dan tabah karena kita yakin bahwa Allah itu Maha Hidup dan Abadi serta selalu bersama hamba yang Sholeh.

Jika Gagal Berusaha Lagi


Jika kita gagal, jangan putus asa dan minder. Kita harus sabar dan tetap berusaha mendapatkan yang lebih baik lagi. Yakinlah ada yang lebih baik yang sedang dipersiapkan Allah untuk kita.

Masa Penantian Jodoh


Jodoh tidak akan lari dan akan datang pada waktunya. Bersabarlah dan sibukkan diri dengan amal sholeh. Hadapilah dengan sikap tenang, santai, tidak mudah emosi/sensitif, tidak larut dalam kesedihan, tidak berputus asa dan tetap bersemangat.

Rasulullah Saw bersabda: “Sungguh menakjubkan kondisi seorang mukmin. Segala keadaan dianggapnya baik, dan hal ini tidak akan terjadi, kecuali bagi seorang mukmin. Apabila mendapat kesenangan ia bersyukur, maka itu tetap baik baginya dan apabila ditimpa penderitaan ia bersabar maka itu tetap baik baginya.” (HR Muslim)

Gunakan energi kita untuk lebih mendekatkan diri dan mencintai Allah Swt., orang tua, dan umat. Yakinlah dengan keadilan-Nya bahwa setiap manusia pasti memiliki jodoh masing-masing. Yakinlah bahwa semua kondisi adalah baik, berguna, dan berpahala bagi kita.

Siap Menerima Taqdir Allah

Hidup adalah ujian. Bisa saja, takdir jodoh kita bukan orang shaleh. Allah Swt berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman. Sesungguhnya di antara pasanganmu dan anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka… Sesungguhnya hartamu dan anakmu, hanyalah ujian bagimu, dan di sisi Allah pahala yang besar.” (Q.S. At-Taghaabuun: 14-15)
Hal tersebut tetap bisa menjadi kebaikan apabila dijadikan sebagai lahan amal shaleh dan batu ujian untuk meningkatkan keimanan, tawakal, dan kesabaran.
 
Wanita Melamar Lelaki

Bukan hal yang dilarang jika wanita menemukan lelaki sholeh dan berinisiatif menawarkan diri dalam pernikahan melalui peran orang yang dipercaya. Khadijah ra melalui pamannya melamar Nabi Muhammad Saw setelah mengetahui akhlak dan agama beliau.

Taqarrub Ilallah

Perburuan jodoh secara syar’i adalah dengan mendekati Allah super ekstra. Caranya dengan bertawasul amal-amal shaleh, tidak hanya ibadah wajib (berbakti kepada orangtua, sholat wajib), juga ibadah sunnah (shoum sunnah, sholat tahajjud/taubat/istikhoroh/hajat/witir/dhuha, tilawah Al Qur’an, istighfar, infaq, dll).
Semakin dekat dengan Allah, iman bertambah dan do’a kita semakin terkabul. Usaha yang konsisten, optimis dan prasangka baik akan memudahkan jalan kita.

Tidak Putus Asa Berdoa

Bacalah doa: “Ya Rabb kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”. (QS. Al Furqon: 74).
Doa lebih terkabul pada tempat mustajab, waktu mustajab dan memperhatikan adab berdoa. Berdoalah menurut apa yang diajarkan Allah dan Rasul-Nya. Tempat mustajab: masjid, majlis ta’lim, Arafah, Hajar Aswad, Hijr Ismail, di atas sajadah, dll.

Waktu mustajab: sepertiga malam yang akhir, selesai sholat wajib/tahajjud/hajat, saat sujud/I’tidal terakhir dalam sholat, sedang berpuasa, berbuka puasa, dalam perjalanan, selesai khatam qur’an, hari Jum’at, baru mulai hujan, diantara azan dan iqamat, ketika minum air zamzam, bulan ramadhan/lailatul qodar, antara zuhur dan ashar juga antara ashar dan maghrib, selesai sholat subuh, dalam kesulitan, sedang sakit, sedang ada jenazah.

Adab berdoa: menjauhkan hal yang haram, ikhlas, diawali dan diakhiri tahmid/sholawat, menghadap kiblat, suci dari hadats dan najis, khusyu’ dan tenang, menengadahkan kedua tangan, dengan suara rendah dan pengharapan sepenuh hati, mengulangi berkali-kali, tidak berputus asa, menghadirkan Allah dalam hati, tidak meninggalkan sholat wajib, tidak melakukan dosa besar, tidak minta sesuatu yang dilarang Allah, sambil menangis.

Nabi Musa as berdoa setelah menolong dua perempuan penggembala kambing: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.” (QS 28:24). Allah swt memahami keperluan dan prioritasnya, sehingga tidak saja memberi makanan, tapi juga memberi jodoh, tempat tinggal dan pekerjaan.

Wallahu’alam bishawab.

Sumber : Artikel Barisan Muda Alawiyyin (BAMAH)

Jumat, 02 November 2012

Tanduk Setan Dari Najd Menurut Hadits Paling Sahih

Anda pasti tahu bahwa para wahhabi dalam mempertahankan Iraq adalah yang dimaksud Nejd dalam arti dataran tinggi tempat munculnya Tanduk Setan oleh Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa sallam.
 Tanduk Setan Dari Najd Menurut hadits Paling Sahih
Bahkan ketika hujjah Irak bukanlah Nejd tempat munculnya tanduk setan dengan menghadirkan peta pun mereka tetap saja tidak mau menerimanya, entah rasa malu seperti apa ketika hujjah hujjah ahlussunnah telah begitu terang, bahwa nejd adalah tempat munculnya tanduk setan.
Agaknya usaha untuk mempertahankan dan membela Pendiri Kaum Wahhabi yang bukan sebagai tanduk setan, berkaitan bukti Musailimah Al Kaddzab dan Muhammad Bin Abdul Wahhab begitu sangat mencoreng muka mereka.

Hadist yang paling shohih berkaitan tentang munculnya tanduk setan terdapat dalam sahihain adalah sebagai berikut:
 حدثنا محمد بن المثنى قال حدثنا حسين بن الحسن قال حدثنا ابن عون عن نافع عن ابن عمر قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم
… اللهم بارك لنا في شامنا وفي يمننا ، قال ، قالوا وفي نجدنا ؟ قال قال اللهم بارك لنا في شامنا وفي يمننا ، قال قالوا وفي نجدنا ؟ قال قال هناك الزلازل والفتن وبها يطلع قرن الشيطان

Dalam shohih muslim
 حدثنا علي بن عبد الله حدثنا أزهر بن سعد عن ابن عون عن نافع عن ابن عمر قال ذكر النبي صلى الله عليه وسلم اللهم بارك لنا في شامنا اللهم بارك لنا في يمننا ، قالوا يارسول الله وفي نجدنا ؟ قال اللهم بارك لنا في شامنا اللهم بارك لنا في يمننا ، قالوا يارسول الله وفي نجدنا ؟ فأظنه قال في الثالثة: هناك الزلازل والفتن وبها يطلع قرن الشيطان

Adapun riwayat yang memakai kalimat Iraq/Irak dalam beberapa Hadist yang lain adalah termasuk مخالفة الثقة لمن هو أوثق منه (Menyelisihi yang lebih tsiqot diantara hadit hadits yang Tsiqoh), dan agaknya hadits hadits inilah yang menjadi pegangan kaum wahhabi untuk mengelak dari kenyataan bahwa Najd adalah tempat munculnya tanduk setan.
Untuk lebih jelasnya silahkan anda simak uraian hadits hadits yang menggunakan kalimat Irak/Iraq dari sisi sanad atau rijalnya.
Terdapat Redaksi Hadits yang mrnggunakan kalimat Irak/Iraq yaitu dalam Hilyatul Awliya dan Mu’jam al Awsath sebagai berikut:

: [حدثنا عبدالله بن جعفر حدثنا إسماعيل بن عبدالله حدثنا الحسن بن رافع الرملي حدثنا ضمرة عن ابن شوذب عن توبة العنبري عن سالم بن عبدالله عن أبيه أن عمر قال إن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (اللهم بارك لنا في صاعنا وفي مدنا، ... إلخ)، فرددها ثلاث مرات، فقال الرجل: (يا رسول الله ولعراقنا)، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (بها الزلازل والفتن ومنها يطلع قرن الشيطان)].

Redaksi hadits diatas yang menggunakan kalimat Iraq/Itak terdapat nama عبيد الله بن عبد الله بن عون (‘Ubaidillah bin Abdullah bin ‘Aun) ini bukan termasuk pemuka Hadits yang masyhur, hal itu dapat dibuktikan bahwa Kutubus Sittah tidak satupun mengeluarkan hadits dari Beliau (‘Ubaidillah bin Abdullah bin ‘Aun), dengan demikian dalam Hadits diatas ada satu rowi yang majhul.
Juga terdapat Nama sanad Ibnu Syaudzab yang menurut Imam Ibnu ‘Asakir dalam kitabnya Tarikh Dimsyaq juz 1 hal 130 adalah seorang Mudallis (Pemalsu Hadits).
Hadits kedua dalam Kitab yang sama dan menggunakan kalimat Iraq/Irak adalah:

[حدثنا علي بن سعيد قال: حدثنا حماد بن إسماعيل بن علية قال: حدثنا ابي قال: حدثنا زياد بن بيان قال: حدثنا سالم بن عبد الله بن عمر عن ابيه قال: صلى النبي، صلى الله عليه وسلم، صلاة الفجر ثم انفتل فأقبل على القوم فقال اللهم بارك لنا في مدينتنا وبارك لنا في مدنا وصاعنا اللهم بارك لنا في شامنا ويمننا فقال رجل (والعراق) يا رسول الله فسكت ثم قال: اللهم بارك لنا في مدينتنا وبارك لنا في مدنا وصاعنا اللهم بارك لنا في حرمنا وبارك لنا في شامنا ويمننا فقال رجل (والعراق) يا رسول الله قال: (من ثم يطلع قرن الشيطان وتهيج الفتن

Disini terdapat nama sanad زياد بن بيان (Ziyad bin Bayyan) walaupun menurut Al Hafidl adalah sorang yang jujur, tetapi Beliau bukan termasuk Orang yang masyhur meriwayatkan hadits kecuali hadits tersebut dan satu hadits tentang Imam Mahdi yang di inkari Oleh Imam Bukhori.
Hadits lain yang menggunakan kalimat Irak/Iraq terdapat juga dalam kitab Mu'jam Al Kabir, sebagai berikut:

[حدثنا محمد بن علي المروزي حدثنا أبو الدرداء عبد العزيز بن المنيب حدثنا إسحاق بن عبد الله بن كيسان عن أبيه عن سعيد بن جبير عن بن عباس قال: دعا نبي الله، صلى الله عليه وسلم، فقال: (اللهم بارك لنا في صاعنا ومدنا وبارك لنا في مكتنا ومدينتنا وبارك لنا في شامنا ويمننا!)، فقال رجل من القوم: (يا نبي الله، وعراقنا؟!) فقال: (إن بها قرن الشيطان، وتهيج الفتن. وإن الجفاء بالمشرق!)]، وقد أخرجه الإمام ابن عساكر في (تاريخ دمشق، ج: 1 ص: 138) من طريق الطبراني هذه,

Dalam hadits diatas terdapat satu nama  عبد الله بن كيسان(Abdullah bin Kaysan) beliau ini adalah   أبو مجاهد عبد الله بن كيس
ان المروزي (Abu Mujahid ‘Abdullah bin Kaysan Al Marwazy), seperti yang dikatakan Imam Bukhori, beliau ini adalah orang yang banyak kesalahannya sehingga tidak bisa dibuat hujjah.
Adapun إسحاق بن عبد الله (Ishaq bin Abdullah; anaknya pent) ini lebih Dho,if, seperti yang dikatakan Imam Bukhori juga bahwa beliau adalah Munkarul Hadits, apalagi Beliau mendapatkan hriwayat hadits tersebut dari Bapaknya, jadi dobel Dho,if.

JADI keputusan nya adalah tanduk setan itu muncul dari NAJD,sesuai beberapa hadist shohih diatas, kiranya pembahasan kali ini lebih dari cukup sebagai bukti bahwa tanduk setan itu adalah muncul dari najd, walaupun sebenarnya masih ada beberapa redaksi hadits yang menggunakan kalimat Iraq/Irak dan sebagian yang lain juga ada yang menggunakan kalimat Masyriq, namun kebanyakan hadits hadits tersebut tidak sesahih yang terdapat dalam Kitab Bukhori dan Muslim.

Kamis, 01 November 2012

dua tanduk setan dari Najd, salah satunya adalah Muhammad bin Abdul Wahhab

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Bismillaahir rahmaanir rahiim...

Mereka menyampaikan bahwa tidak benar penisbatan pemahaman Muhammad bin Abdul Wahhab sebagai Wahabi atau Wahabiyyah.

Para Ulama sudah sepakat bahwa penamaan pemahaman Muhammad bin Abdul Wahhab  dinisbatkan kepada nama ayahnya agar dapat dibedakan dengan pemahaman Sayyidina Muhammad bin Abdullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

Mereka menyampaikan bahwa kaum Wahabiyyah sebenarnya adalah yang mengikuti  pemahaman Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustum Al-Khoriji Al-Abadhi.

Abdul  Wahhab bin Abdirrahman bin Rustum Al-Khoriji Al-Abadhi adalah sosok  lain. Sepak terjangnya tidak lah menjadi perhatian para ulama. Terjadinya jauh sebelum abad 12 H. Terlebih lagi dia tidak berasal dari Najd.

Yang dibacarakan orang banyak adalah ulama asal Najd yakni Muhammad bin Abdul Wahhab. Bahkan sebagian ulama berpendapat yang dimaksud dua tanduk setan dari Najd, salah satunya adalah Muhammad  bin Abdul Wahhab

Bahkan ulama mereka sendiri Abdul Aziz bin Abdillah bin Bazz mentashhihkan kitab biografi Ulama Muhammad ibnu Abdil Wahhab karya Syekh Ahmad ibn Hajar al-Butami yang menyampaikan bahwa Wahhabi adalah pengikut ulama Muhammad bin Abdul Wahhab..
- Di halaman 59 disebutkan : ﻓﻘﺎﻣﺖ ﺍﻟﺜﻮﺭﺍﺕ ﻋﻠﻰ ﻳﺪ ﺩﻋﺎﺓ ﺍﻟﻮﻫﺎﺑﻴﻴﻦ “maka tegaklah revolusi di atas tangan para da’i Wahhabi”
-  Di halaman 60 disebutkan : ﻋﻠﻰ ﺃﺳﺎﺱ ﻣﻦ ﺍﻟﺪﻋﻮﺓ ﺍﻟﺪﻳﻨﻴﺔ ﺍﻟﻮﻫﺎﺑﻴﺔ ﻓﻲ ﻣﻜﺔ “  atas dasar dari dakwah agama Wahhabi di Mekkah” , ﻳﺪﻳﻨﻮﻥ ﺑﺎﻹﺳﻼﻡ ﻋﻠﻰ  ﺍﻟﻤﺬﻫﺐ ﺍﻟﻮﻫﺎﺑﻲ , “mereka beragama dengan Islam atas Mazhab Wahhabi”

Begitupula dengan apa yang disampaikan oleh ulama abad 12 H yang hidup semasa dengan ulama Muhammad bin Abdul Wahhab.

Ulama  Madzhab Hanafi, al-Imam Muhammad Amin Afandi yang populer dengan  sebutan Ibn Abidin, juga berkata dalam kitabnya, Hasyiyah Radd al-Muhtar sebagai berikut: “Keterangan tentang pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab, kaum Khawarij pada masa kita. Sebagaimana terjadi pada masa  kita, pada pengikut Ibn Abdul Wahhab yang keluar dari Najd dan berupaya keras menguasai dua tanah suci. Mereka mengikuti madzhab Hanabilah. Akan tetapi mereka meyakini bahwa mereka saja kaum Muslimin, sedangkan orang  yang berbeda dengan keyakinan mereka adalah orang-orang musyrik. Dan oleh sebab itu mereka menghalalkan membunuh Ahlussunnah dan para  ulamanya sampai akhirnya Allah SWT memecah kekuatan mereka, merusak negeri mereka dan dikuasai oleh tentara kaum Muslimin pada tahun 1233 H.” (Ibn  Abidin, Hasyiyah Radd al-Muhtar ‘ala al-Durr al-Mukhtar, juz 4, hal.  262).

Ulama madzhab al-Maliki, al-Imam Ahmad bin  Muhammad al-Shawi al-Maliki, ulama terkemuka abad 12 Hijriah dan semasa  dengan pendiri Wahhabi, berkata dalam Hasyiyah ‘ala Tafsir al-Jalalain  sebagai berikut: “Ayat ini turun mengenai orang-orang Khawarij, yaitu mereka yang mendistorsi penafsiran al-Qur’an dan Sunnah, dan oleh sebab itu mereka menghalalkan darah dan harta benda kaum Muslimin sebagaimana  yang terjadi dewasa ini pada golongan mereka, yaitu kelompok di negeri Hijaz yang disebut dengan aliran Wahhabiyah, mereka menyangka bahwa mereka akan memperoleh sesuatu (manfaat), padahal merekalah orang-orang  pendusta.” (Hasyiyah al-Shawi ‘ala Tafsir al-Jalalain, juz 3, hal. 307).

Mereka  katakan bahwa apa yang kami sampaikan adalah untuk menjauhkan kaum  muslim dari dakwah sunnah atau menjauhkan dari ajaran agama.

Kami bukanlah menjauhkan saudara-saudara muslim kami dari dakwah sunnah atau  menjauhkan dari ajaran agama namun kami menjauhkan saudara-saudara  muslim kami dari pemahaman ulama yang mengaku-aku mengikuti pemahaman Salaf yang sholeh namun tidak bertalaqqi (mengaji) dengan Salaf yang  sholeh.

Kami berupaya mengingatkan saudara-saudara muslim kami untuk mengikuti sunnah atau ajaran agama sebagaimana yang disampaikan oleh Imam Mazhab yang empat yang diperoleh dari apa yang  disampaikan oleh lisannya Salaf yang Sholeh yang diperoleh dari apa yang  disampaikan oleh lisannya Rasulullah Shallallahu Alaihi Sasallam.

Mereka menyampaikan pendapat ulama mereka seperti Abdul Aziz bin Baz mengatakan, “Orang yg memusuhi Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab ada 2 (dua) golongan :
  1. Golongan yang berada dalam kubang kesyirikan mereka memusuhi syekh karena ingin kembali kedalam kesyirikan mereka, sebab syekh menyerukan tauhid, sedang mereka menggandrungi kesyirikan.
  2. Orang orang jahil yg tertipu oleh juru dakwah kebatilan.Orang-orang  jahil tersebut hanya taklid buta kepada sesama orang jahil atau orang  yang dengki. (Majmu' Fatawa wa maqalat 9\234)

Andaikan  orang yang berada dalam lubang kesyirikan memusuhi atau membenci  Muhammad bin Abdul Wahhab dan para pengikutnya, mengapa penguasa Amerika  yang dibelakangnya kaum Zionis Yahudi tidak membenci penguasa kerajaan  dinasti Saudi dan bahkan mereka bersahabat ? Ataukah penguasa kerajaan dinasti Saudi juga berada dalam lubang kesyirikan ? Kenapa mereka menjadikan dinasti Saudi sebagai pemimpin mereka ?

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda :  “Barangsiapa memilih seseorang menjadi pemimpin untuk suatu kelompok, yang di kelompok itu ada orang yang lebih diridhai Allah SWT dari pada orang  tersebut, maka ia telah berkhianat kepada Allah SWT, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman.” (HR. Hakim)

Kami tidaklah memusuhi ataupun membenci ulama Muhammad bin Abdul Wahhab. Kami hanya menyampaikan apa yang disampaikan oleh ulama-ulama terdahulu yang sholeh. Bahkan ayah beliau sendiri menjelaskan bahwa ulama Muhammad bin Abdul Wahhab tidak seperti ulama-ulama lainnya yang belajar kitab-kitab  Imam Mazhab.

Ulama Madzhab Hanbali, al-Imam Muhammad bin Abdullah bin Humaid al-Najdi dalam kitabnya al-Suhub al-Wabilah ‘ala Dharaih al-Hanabilah ketika menulis biografi Syekh Abdul Wahhab, ayah pendiri Wahhabi, menuliskan sebagai berikut:
“Sebagian ulama yang aku jumpai menginformasikan kepadaku, dari orang yang semasa dengan  Syekh Abdul Wahhab ini, bahwa beliau sangat murka kepada anaknya,  karena ia tidak suka belajar ilmu fiqih seperti para pendahulu dan orang-orang di daerahnya. Sang ayah selalu berfirasat tidak baik tentang anaknya pada masa yang akan datang. Beliau selalu berkata kepada masyarakat, “Hati-hati, kalian akan menemukan keburukan dari Muhammad.”  Sampai akhirnya takdir Allah SWT benar-benar terjadi. (Ibn Humaid al-Najdi,  al-Suhub al-Wabilah ‘ala Dharaih al-Hanabilah, hal. 275).

Pemahaman Muhammad bin Abdul Wahhab mengikuti pemahaman Ibnu Taimiyyah yang  semula bermazhab Hanbali namun pada akhir mereka bermazhab dengan akal pikiran mereka sendiri bersandarkan muthola’ah (menelaah kitab) secara otodidak.

Syaikhul Islam Ibnu Hajar Al Haitami pernah ditanya tentang akidah mereka yang semula para pengikut Mazhab Hambali, apakah akidah Imam Ahmad bin Hambal seperti akidah mereka ?

Beliau  menjawab: “Akidah Imam ahli sunnah, Imam Ahmad bin Hambal –semoga Allah SWT  meridhoinya dan menjadikannya meridhoi-Nya serta menjadikan taman surga sebagai tempat tinggalnya, adalah sesuai dengan akidah Ahlussunnah wal Jamaah dalam hal menyucikan Allah SWT dari segala macam ucapan yang  diucapkan oleh orang-orang zhalim dan menentang itu, baik itu berupa  penetapan tempat (bagi Allah), mengatakan bahwa Allah SWT itu jism (materi) dan sifat-sifat buruk lainnya, bahkan dari segala macam sifat yang  menunjukkan ketidak sempurnaan Allah SWT.

Adapun  ungkapan-ungkapan yang terdengar dari orang-orang jahil yang mengaku-ngaku sebagai pengikut imam mujtahid agung ini, yaitu bahwa  beliau pernah mengatakan bahwa Allah SWT itu bertempat dan semisalnya, maka  perkataan itu adalah kedustaan yang nyata dan tuduhan keji terhadap beliau. Semoga Allah SWT melaknat orang yang melekatkan perkataan itu kepada beliau atau yang menuduh beliau dengan tuduhan yang Allah SWT telah membersihkan beliau darinya itu.
 
Al Hafizh Al Hujjah Al  Imam, sang panutan, Abul Faraj Ibnul Jauzi, salah seorang pembesar Imam Mazhab Hambali yang membersihkan segala macam tuduhan buruk ini, telah  menjelaskan tentang masalah ini bahwa segala tuduhan yang dilemparkan kepada sang imam adalah kedustaan dan tuduhan yang keji terhadap sang imam. Bahkan teks-teks perkataan sang imam telah menunjukkan kebatilan tuduhan itu, dan menjelaskan tentang sucinya Allah SWT dari semua itu. Maka pahamilah masalah ini, karena sangat penting.

Janganlah sekali-kali kamu dekati buku-buku karangan Ibnu Taimiyah dan muridnya, Ibnul Qayyim dan orang seperti mereka berdua.
Siapa yang bisa memberikan petunjuk orang seperti itu selain Allah SWT.?

Bagaimana  orang-orang atheis itu melampaui batas-batas, menabrak aturan-aturan dan merusak tatanan syariat dan hakikat, lalu mereka menyangka bahwa  mereka berada di atas petunjuk dari Tuhan mereka, padahal tidaklah demikian. Bahkan mereka berada pada kesesatan paling buruk, kemurkaan paling tinggi, kerugian paling dalam dan kedustaan paling besar. Semoga  Allah SWTmenghinakan orang yang mengikutinya dan membersihkan bumi ini dari orang-orang semisal mereka. (Sumber:  Al Fatawa Al Haditsiyah 1/480  karya Syekhul Islam al-Imam Ibnu Hajar al-Haitami)

Begitupula Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, ulama besar Indonesia yang pernah  menjadi imam, khatib dan guru besar di Masjidil Haram, sekaligus Mufti Mazhab Syafi’i pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 menjelaskan dalam kitab-kitab beliau seperti ‘al-Khiththah al-Mardhiyah fi Raddi fi Syubhati man qala Bid’ah at-Talaffuzh bian-Niyah’, ‘Nur al-Syam’at fi  Ahkam al-Jum’ah’, bahwa pemahaman Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Qoyyim Al Jauziah menyelisih pemahaman Imam Mazhab yang Empat. Imam Mazhab yang Empat bertemu dan mendapatkan pemahaman langsung dari lisannnya Salaf yang sholeh.

Apa yang telah terjadi di Arab Saudi  selama penjajahan dinasti Saudi merupakan musibah bagi dunia Islam. Dari  sejak kelahiran kerajaan dinasti Saudi mereka bersahabat dengan  Kerajaan Protestan Anglikan, Inggris dan pada saat sekarang mereka bersahabat dengan Amerika. Dibelakang sahabat mereka semua adalah kaum Zionis Yahudi.

Bahkan mereka sekarang menyusun kurikulum pendidikan agama bekerja sama dengan Amerika sebagaimana diketahui dari tulisan pada, http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/03/04/2011/02/07/muslim-bukanlah-ekstrimis/

Dulu  mereka dikenal bermazhab Hanbali namun pada akhirnya pemahaman agama  mereka mengikuti pemahaman Muhammad bin Abdul Wahhab sebagai pemahaman  resmi kerajaan dinasti Saudi.

Mereka memiliki lembaga Al-Lajnah Ad-Da`imah lil Buhuts Al-’Ilmiyyah wal Ifta` (Komite  Tetap untuk Riset Ilmiah dan Fatwa). Namun mereka berfatwa pada umumnya bersandarkan  pada pendapat Muhammad bin Abdul Wahhab atau pendapat Ibnu Taimiyyah, ulama-ulama yang mengaku-aku mengikuti pemahaman Salaf yang sholeh namun tidak bertalaqqi (mengaji) dengan Salaf yang sholeh. Mereka meninggalkan pendapat para Imam Mazhab yang Empat yang bertalaqqi (mengaji) dengan Salaf yang sholeh.

Akibatnya mereka berpendapat bahwa Imam Baihaqi, Imam Nawawi maupun Ibnu Hajar telah sesat dalam memahami ayat-ayat mutasyabihat tentang sifat Allah SWT atau telah  terjatuh/tergelincir pada  penakwilan terhadap  sifat-sifat  Allah SWT. Pendapat mereka bahwa pemahaman tersebut tidak sesuai dengan pemahaman Salafush Sholeh. Pada kenyataanya  yang dimaksud oleh mereka  tidak sesuai dengan pemahaman Salafush Sholeh  adalah tidak sesuai  dengan pemahaman ulama Ibnu Taimiyyah dan para  pengikutnya.  Hal ini terurai dalam tulisan pada  http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/09/07/klaim-mereka/

Contoh lain, tata cara sholat mereka tidak lagi merujuk kepada salah satu dari Imam Mazhab yang empat. Mereka mengikuti tata cara sholat contohnya  seperti yang dipahami oleh Al Albani pengikut Muhamad bin Abdul Wahhab berdasarkan muthola'ah (menelaah) kitab secara otodidak.

Ulama  besar Syria, DR. Said Ramadhan Al-Buthy telah berdialog dengan ulama Al  Albani untuk mengetahui “pemahaman” ulama Al Albani langsung dari  lisannya.

Akhirnya kesimpulan DR. Said Ramadhan dituangkan dalam buku berjudul Al-Laa Mazhabiyah, Akhtharu Bid’atin Tuhaddidu As-Syariah Al-Islamiyah. Kalau kita terjemahkan secara bebas, kira-kira makna judul itu adalah : Paham Anti Mazhab, Bid’ah Paling Gawat Yang Menghancurkan Syariat Islam. Sedikit penjelasan tetang buku tersebut dalam tulisan pada  http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/18/paham-anti-mazhab/

Juga  telah diuraikan dalam salah satu tulisan pada,  http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/11/22/tidak-cukup/, bahwa ulama Al Albani terlihat mengingkari hadits seperti Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang shalatnya tidak mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, maka ia tidak bertambah dari Allah SWT kecuali semakin jauh dari-Nya” (diriwayatkan oleh ath Thabarani dalam al-Kabir nomor 11025, 11/46)

Pengingkaran atau kesalah pahamannya pada  hadits-hadits lain telah  pula diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.files.wordpress.com/2010/04/inilahahlussunnahwaljamaah.pdf

Bahkan  salah satu ulama  keturunan cucu Rasulullah mengatakan dalam tulisannya  tentang Al Albani pada  http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=34&func=view&id=22475&catid=9, bahwa beliau sebenarnya tak suka bicara mengenai ini (menyampaikannya),  namun beliau memilih mengungkapnya ketimbang hancurnya ummat.

Penjajahan yang dilakukan oleh dinasti Saudi terhadap Arab Saudi tentulah atas kehendak Allah Azza wa Jalla.

Rasulullah  Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda “Kalian akan mengalami babak Kenabian selama masa yang Allah SWT kehendaki, kemudian babak kekhalifahan mengikuti manhaj Kenabian selama masa yang Allah SWT kehendaki, kemudian babak Raja-raja yang menggigit, selama masa yang Allah SWT kehendaki, kemudian babak para penguasa yang memaksakan kehendak selama masa yang Allah SWT kehendaki, kemudian kalian akan mengalami babak kekhalifahan mengikuti manhaj Kenabian, kemudian Nabi diam.” (HR Ahmad)

Sebagaimana  kita ketahui Ummat Islam dewasa ini sedang menjalani babak keempat dari  lima babak perjalanan sejarahnya di akhir zaman.
Tiga babak sebelumnya telah dilalui :
  1. Babak Pertama, babak An-Nubuwwah (Kenabian) yakni masa ketika manhaj kenabian berlangsung.
  2. Babak Kedua, babak Khilafatun ’ala Minhaj An-Nubuwwah (Kekhalifahan yang mengikuti Sistem / Metode Kenabian)
  3. Babak  Ketiga, babak Mulkan ’Aadhdhon (Raja-raja yang menggigit)., masa ketika  raja-raja masih “mengigit” / berpegangan pada Al-Qur’an dan Hadits.

Sesudah  berlalunya babak ketiga yang ditandai dengan tigabelas abad masa  kepemimpinan Kerajaan Daulat Bani Umayyah, kemudian Kerajaan Daulat Bani Abbasiyyah dan terakhir Kesultanan Utsmani Turki, maka selanjutnya  ummat Islam memasuki babak keempat, babak Mulkan Jabbriyyan (Penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak seraya mengabaikan kehendak Allah SWT dan Rasul-Nya).

Babak keempat diawali semenjak runtuhnya Kesultanan Utsmani Turki yang sekaligus merupakan kekhalifahan Islam terakhir pada tahun 1924. Setelah runtuhnya sistem pemerintahan Islam, maka selanjutnya ummat Islam mulai menjalani kehidupan dengan  mengekor kepada pola kehidupan bermasyarakat dan bernegara ala Barat.

Mulailah di berbagai negeri muslim didirikan di atasnya berbagai nation-state (negara bedasarkan kesatuan bangsa/wilayah). Padahal sebelumnya semenjak Nabi shollallahu Alaihi Wasallam menjadi kepala negara Daulah Islamiyyah (Negara Islam) pertama di Madinah, ummat Islam hidup dalam sistem aqidah-state (negara berdasarkan kesatuan aqidah) selama ribuan  tahun.

Sekarang kita dapat melihat bagaimana penguasa  dinasti Saudi bersahabat dengan Amerika yang dibelakangnya adalah kaum  Zionis Yahudi.

Firman Allah Azza wa Jalla, yang artinya,

Hai  orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak  henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa  yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya” ,  (QS Ali Imran, 118)

Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada  kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata  “Kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari antaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada  mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah SWT mengetahui segala isi hati“. (QS Ali Imran, 119)

Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan  (pula) dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui“. (QS Al Mujaadilah [58]:14 )

Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang-orang kafir menjadi wali (pemimpin)  dan meninggalkan orang-orang mu’min. Barang siapa berbuat demikian,  niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah…” (Qs. Ali-Imran : 28)

Kamu  tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak, atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.” (Qs. Al Mujadilah : 22)
Wassalam. Insya bermanfaat.

Rabu, 31 Oktober 2012

Waspada! Doktrin Wahabi Masuk Kurikulum Sekolah Indonesia



Sekolah merupakan faktor utama pembentuk kepribadian. Setiap materi pelajaran, nilai dan teladan yang didapat di sekolah akan diserap oleh siswa dan mempengaruhi karakter secara signifikan. Baik teladan itu ia dapat dari guru maupun teman satu sekolahnya. Kualitas dan tingkah laku seseorang selalu dikaitkan dengan di sekolah mana ia menempuh jenjang pendidikan. Hal inilah yang mengharuskan untuk memberi perhatian khusus pada sekolah yang menjadi lingkungan utama anak belajar. Minimnya perhatian orang tua terhadap perkembangan anak semakin menambah dominasi sekolah terhadap perkembangan dan pembawaan anak. Agaknya, teori lama Ki Hajar Dewantara yang menomorduakan peranan sekolah dalam pengaruhnya terhadap perkembangan menyeluruh pada anak setelah faktor kelurga perlu ditinjau ulang. Apalagi orang tua  belakangan ini cenderung menyerahkan kepercayaannya dalam pendidikan sepenuhnya kepada lembaga pendidikan. Secara selektif orang tua menunjuk satu lembaga pendidikan agar bisa lebih berkonsentrasi total terhadap pekerjaannya.
Fenomena inilah yang patut diwaspadai oleh seluruh kalangan khususnya para orangtua, pemerhati pendidikan dan tokoh masyarakat. Sudah sepatutnya sekolah mendapat perhatian lebih dalam segala aspeknya. Kapabilitas guru sebagai orang paling didengar dan diikuti pemikirannya serta teman sebagai tolok ukur pandangan. Terutama lagi adalah materi pelajaran yang diajarkan di sekolah. Para pemangku sekolah harus memberi perhatian lebih terkait hal-hal tersebut.
Terkait dengan materi pelajaran yang menjadi muatan kurikulum, beberapa aliran dalam Islam mulai bergerak menyisipkan ideologi eksklusifnya ke dalam kurikulum nasional melalui mata pelajaran berbasis agama. Beberapa doktrin “tidak benar” berhasil masuk menjadi bagian dari materi esensial mata pelajaran akidah akhlak edaran kementerian agama pusat 2009 lalu (Pusdiklat Tenaga Teknis Pendidikan dan Keagamaan Kemenag). Artinya, doktrin tersebut merupakan bagian dari materi yang wajib dikuasai anak-anak didik yang menempuh jenjang pendidikan dalam sekolah. Karena sudah menjadi materi pelajaran, implikasinya adalah doktrin ini menjadi materi ujian yang akan dihapalkan dan tidak menutup kemungkinan akan “dianut” siswa karena dianggap sebagai kebenaran yang harus diyakini. Naik dari ranah kognitif yang hanya menitikberatkan pada penguasaan materi dalam otak ke taraf afektif (hati) dan menjadi kepercayaan.
Sejak berlakunya otonomi pendidikan pada tahun 2001 dengan dijalankannya Undang-undang nomor 22 tahun 1999 tentang otonomi daerah, pemerintah daerah diberi kewenangan dan kesempatan untuk memberdayakan segala hal dalam penyelengaraan pendidikan, baik itu muatan kurikulum, proses pembelajaran dan sistem penilaian hasil belajar, guru dan sekolah, fasilitas dan sarana belajar. Meski begitu, pemerintah pusat tetap menetapkan standar isi dan kompetensi yang harus dijadikan acuan dalam pengembangan kurikulum. Inilah yang berpotensi memicu problem dalam tataran lebih lanjut. Standar isi yang ditetapkan diyakini tidak –akan mampu memenuhi kemauan beragam aliran Islam khususnya dalam aspek akidah karena masing-masing aliran secara spesifik memiliki karakteristik  yang tak bisa diintegrasikan untuk mencapai konsensus. Sebagai contoh, ahlussunnah tentu berbeda dengan wahhabi dalam pendekatan masalah tauhid. Mereka mengenal konsep tauhid dengan tiga macamnya, yaitu  uluhiyyah, rububiyyah dan asma’ wa shifat sedangkan ahlussunnah mengingkari konsep yang digagas ibnu taimiyyah ini. Jangan harap akan ada kompromi menyikapi perbedaan prinsip dalam masalah ini.
Pada mulanya, macam-macam tauhid khas wahhabi yakni tauhid uluhiyyah, rububiyyah dan tauhid asma’ wa shifat belumlah menjadi standar isi mata pelajaran pendidikan agama islam nasional. Hal ini terlihat dari kritik yang disampaikan oleh Prof. Dr. Muhaimin, MA pada acara workshop penilaian pendidikan agama islam pada sekolah di Bogor, 2007 silam. Seperti tertulis dalam artikelnya yang berjudul “Analisis Kritis Terhadap Permendiknas no. 23/2006 & no. 22/2006 Tentang Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi Pendidikan Agama Islam di SD/MI, SMP/MTS & SMA/MA”, Muhaimin mengkritik rumusan Standar Kompetensi Lulusan aspek akidah yang tidak mengadopsi tauhid berkarakter wahhabi. Ia pun melayangkan kritik terhadap pendidikan agama Islam nasional secara umum seraya berusaha menyisipkan materi tauhid ala wahhabi ke dalam materi pendidikan agama. Guru Besar UIN Malang untuk Ilmu Pendidikan Agama dalam artikelnya ini menyebutkan perlunya menjadikan tiga macam tauhid itu sebagai bagian dari standar kompetensi lulusan dan kompetensi dasar aspek akidah untuk mata pelajaran akidah akhlak. Selain menyebutkan keunggulan model tauhid ala ibnu taimiyyah tersebut dalam artikelnya, beliau juga menuturkan kekurangan konsep tauhid madzhab al-asy’ari yang membagi sifat allah menjadi dua puluh, dan lain sebagainya.
Secara runtut dan ilmiah khas seorang akademisi, Muhaimin mengemukakan argumennya dan mengkritik model lama pelajaran akidah.  Dia berkeinginan untuk mengeliminasi konsep tauhid asy’ari seperti sifat wajib allah yang 20 lalu mengisinya dengan asma’ul husna. Alasan yang dipaparkan pun cukup menarik dan rasional. Dia beranggapan bahwa model lama sifat dua puluh dirasa kurang tepat dan mengena sesuai tujuan pelajaran akidah, yaitu lebih menyentuh dimensi hati dan memberi dampak kejiwaan pada kualitas iman seorang muslim. Asma’ul husna dipandang lebih mampu menyentuh perasaan seorang muslim dan memiliki efek yang lebih nyata dan praktis daripada sifat wajib yang dua puluh. Hanya rumusan rasionalistik.


              Prof. Muhaimin, Guru Besar UIN Malang dan Ilustrasi Buku Akidah Akhlak

Usaha gigih wahhabi itu pada akhirnya membuahkan hasil. Tauhid uluhiyyah, tauhid rububiyyah dan tauhid asma’ wa shifat berhasil masuk menjadi bagian modul pelajaran akidah akhlak standar nasional. Secara eksplisit, memang tidak disebutkan pembagian tauhid menjadi tiga macam ke dalam muatan pelajaran. Hanya saja, dengan cerdik materi itu mereka sisipkan bebarengan dengan sifat wajib allah yang dua puluh itu. Dengan praktek yang halus ini, tentu saja anak didik dikhawatirkan akan mengira bahwa ragam tauhid ini adalah satu paket wajib hapal bersama sifat wajib 20 yang sudah familiar dan biasa dilantunkan sebelum shalat.
Jika dilihat sekilas, penyisipan tauhid uluhiyyah dan tauhid rububiyyah ke dalam mata pelajaran pendidikan agama islam aspek akidah seakan tidak berbahaya dan berpengaruh signifikan. Apalagi menilik alasan yang dikemukakan Muhaimin seperti di atas. Terlihat logis dan lebih masuk akal. Padahal sebenarnya dari konsep tauhid macam inilah jurang lebar antara dua komunitas besar muslim berpotensi tercipta. Tidak main-main. Dengan bepijak pada mainstream tauhid macam ini, wahhabi bisa-bisa mengkafirkan mayoritas muslim Indonesia sebab praktek ibadah yang biasa mereka amalkan seperti membaca burdah, manaqib dan semisalnya.
Bila ditinjau dalam spektrum yang lebih luas, kekakuan wahhabi dalam berislam bisa dilihat dalam kehidupan beragama di Arab Saudi. Di Indonesia, dinamika perbedaan masih bisa ditolerir dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika, namun tidak demikian halnya dengan di Arab Saudi. Implikasi dari konsep tauhid inilah yang menciptakan perbedaan karena menjadi legitimasi bagi beberapa sikap mereka yang kontroversial di mata umat Islam. Larangan mengadakan maulid dan beberapa kegiatan kebaikan seperti istighotsah bahkan sikap mengangkat kedua tangan ketika berdoa di Makam Rasulullah adalah beberapa dampak serius dari perbedaan dalam memahami konsep tauhid yang benar. Yang paling fatal, fanatisme pada konsep tauhid tiga macam ini akan berujung pada sikap saling mengkafirkan antar sesama muslim. Hal apa pula yang lebih besar dari tidak diakui sebagai sebagai muslim?
Implikasi konsep tauhid uluhiyyah rububiyyah dalam praktek keislaman di Indonesia berpotensi memicu friksi tajam antar umat islam. Apalagi ini berhubungan dengan dua komunitas muslim dengan kuantitas terbesar di Indonesia. Jika dipaksakan, peluang untuk ke sana akan semakin terbuka lebar.
Ahlussunnah yang merupakan mayoritas di Indonesia harusnya tanggap menyikapi hal ini. Jika tauhid model lama dianggap tidak akomodatif terhadap minat masa sekarang, bukankah itu hanya masalah pendekatan dan cara penyampaian saja yang tidak menarik? Jika diperbaharui dan dikemas lebih menarik sesuai selera penyampaian pendidikan kontemporer yang kreatif, bukan tidak mungkin anak Sekolah Dasar pun bisa menjangkau dan menikmati materi tauhid ahlussunnah semacam 20 Sifat Wajib Allah yang oleh Muhaimin dikatakan “kurang mengena”. Sepertinya itu hanya masalah penyajian saja yang kurang menarik dan kurang penjabaran makna. Tentu saja ini menjadi tugas umat muslim seluruhnya khususnya yang berkecimpung di dunia pendidikan Indonesia. Bila terus-menerus tidak mendapat perhatian, lubang yang “kecil” ini akan semakin meluas dan boleh jadi akan menggerus habis jejak Ahlussunnah pada Pendidikan Agama Islam di Indonesia. Amiruddin Fahmi